Tren AI dalam Mentransformasi Perawatan Kesehatan, Akurat?

Tren AI dalam Mentransformasi Perawatan Kesehatan, Akurat?

Tren AI atau Artificial Intelligence sudah merambah ke berbagai bidang termasuk kesehatan. Walaupun masih memicu pro dan kontra, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran tren AI dapat membantu.

World Economic Forum mengatakan bahwa tren AI dapat membantu 4,5 miliar orang yang tidak memiliki akses ke pelayanan kesehatan penting. Tren AI mampu menjadi jembatan untuk kesenjangan tersebut.

Nyatanya teknologi AI banyak membantu dokter dalam melakukan deteksi penyakit. Apa saja tren AI yang digunakan dalam kesehatan?

Berbagai Penerapan Tren AI dalam Dunia Kesehatan

Tren AI sudah memasuki bidang kesehatan. Memang masih ada pro kontra tetapi keberadaannya membantu. Apa yang bisa dilakukan AI di bidang kesehatan.

Tren AI diprediksi dapat berpotensi untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan meningkatkan hasil kesehatan secara global. Pernyataan tersebut tercantum dalam makalah berjudul “The Future of AI-Enabled Health: Leading the Way”.

1. AI dapat Menginterpretasikan Pemindaian Otak

Dua universitas di Inggris melatih perangkat lunak pada kumpulan data 800 pemindaian otak pasien stroke dan kemudian mengujinya pada 2000 pasien.

Hasilnya mengejutkan. Selain akurasi, perangkat lunak ternyata juga mampu melakukan identifikasi rentang waktu terjadinya stroke.

Dr. Paul Bentley, konsultan neurolog mengatakan bahwa untuk sebagian besar stroke yang diakibatkan oleh pembekuan darah, jika pasien berada dalam rentang waktu 4.5 jam setelah stroke terjadi, ia memenuhi syarat untuk perawatan medis dan bedah.

Hingga 6 jam, pasien juga memenuhi syarat untuk perawatan bedah, tetapi setelah titik waktu ini, memutuskan apakah perawatan ini bermanfaat menjadi sulit. Karena memang makin banyak kasus yang menjadi tidak bisa pulih.

2. Menilai Kebutuhan Ambulans dengan AI

Sebuah studi yang dilakukan di Yorkshire, Inggris Utara, menemukan bahwa dalam 80 persen kasus, AI dapat memprediksi dengan benar mana pasien yang perlu dipindahkan ke rumah sakit.

Model AI dilatih berdasarkan faktor-faktor, seperti kadar oksigen darah, mobilitas pasien, denyut nadi, dan nyeri dada. Berdasarkan sumber, AI tersebut terbukti dapat merespons tanpa bias.

Namun, memang pihak The UK’s National Institute for Health and Care Excellence atau NICE mengingatkan bahwa sebelum digunakan secara luas, pelatihan lebih lanjut harus dilakukan.

3. Mendeteksi Tanda-Tanda Awal Lebih dari Seribu Penyakit

Tren AI selanjutnya cukup mencengangkan karena AI bisa mendeteksi gejala awal penyakit. Bahkan hingga seribu.

Sebuah model pembelajaran mesin AI baru dapat mendeteksi keberadaan penyakit tertentu bahkan sebelum pasien menyadari gejalanya. Hal tersebut disampaikan oleh pembuatnya, yakni AstraZeneca.

Slavé Petrovski, pemimpin penelitian mengatakan bahwa AI dapat mendeteksi tanda pada individu yang sangat prediktif terhadap perkembangan penyakit, seperti Alzheimer, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit ginjal, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, studi lain mengatakan bahwa alat AI berhasil mendeteksi 64 persen lesi otak epilepsi yang sebelumnya terlewatkan oleh ahli radiologi. Bahkan dapat menemukan lesi yang ukurannya kecil atau tersembunyi.

4. Penggunaan AI untuk Administrasi Pelayanan Kesehatan

Tren AI juga dapat membantu pada klinisi untuk lebih fokus pada pasien. Ini karena tugas administratif dibantu oleh asisten AI.

Baru-baru ini, Microsoft mengumumkan Dragon Copilot yakni sebuah alat layanan kesehatan berbasis AI yang dapat mendengarkan dan membuat catatan tentang konsultasi klinis.

Sementara itu, Google sudah memiliki serangkaian model AI yang dirancang khusus untuk mengurangi beberapa beban administratif dalam layanan kesehatan.

Pada akhirnya tren AI yang terus berkembang masih tetap harus diberikan pelatihan agar tidak salah dalam memberikan informasi kepada dokter maupun pasien. Bagaimana menurut Anda mengenai tren AI yang sudah merambah ke bidang kesehatan ini? Percaya atau masih skeptis?

Back To Top